HeadlinesLingkungan

Masjid dan Penutur Bahasa Banjar Bukti Keberadaan Orang Banjar di Ampenan

Ketua Umum Kerukunan Bubuhan Banjar Nusa Tenggara Barat Nanang Edward menunjukan cetakan kue rokok dan buah asam yang dimiliki oleh seorang warga Banjar di Jalan Energi, Lingkungan Banjar, Kelurahan Banjar, Ampenan, Kota Mataram, Minggu (16/4/2023). Kedua kue tersebut adalah jajanan khas Banjarmasin, Kalimantan Selatan. FOTO AGUS SANTHOSA/RRI MATARAM

Sumber: rri.co.id/mataram

Salah satu jejak keberadaan orang Banjar, Kalimantan Selatan di Ampenan adalah Masjid Nurul Qomar dan warga penutur Bahasa Banjar.

Plang Masjid Nurul Qomar memang tidak terpampang lagi setelah usai renovasi belum lama ini. Sebelum direnovasi masjid ini hanya bisa menampung puluhan orang jemaah salat berjemaah. Namun seiring dengan pembaharuan Kembali mampu menampung seratus orang jamaah. Luas bangunan dahulu masih bisa dikenali dari lantai masjid. Melalui perbedaan jenis keramik yang terpasang saat ini.

Popularitas Masjid Nurul Qomar sebagai jejak keberadaan orang Banjar, Kalimantan di Jalan Energi, Lingkungan Banjar, Kelurahan Banjar, Ampenan, sangat mudah diketahui publik karena masih ada warga Banjar yang bertempat tinggal di sekitar masjid. Salah satunya pemilik Warung Soto Banjar dan pembuat jajan khas Banjar, yaitu kue rokok dan kue buah asam.

“Dulu Masjid Nurul Qomar bernama Shirat al-Mustaqim, Pak Agus. Didirikan oleh warga Banjar tahun 1916 dan dipugar tahun 1981,” kata Ketua Umum Kerukunan Bubuhan Banjar Nusa Tenggara Barat Nanang Edward, SH., Minggu (16/4/2023) kepada rri.co.id.

Baca Juga :  Mahasiswa dan Pemilu yang Bermartabat

Nanang Edward mengungkapkan, kue rokok dan kue buah asam sangat disukai etnis Tionghoa di Mataram. Bahkan ada yang dijual di toko kue terkenal di Cakranegara. Kedua kue tersebut masih diproduksi oleh ibu-ibu dari Banjar di samping Masjid Nurul Qomar. Sekarang pembuat kue sedikit kewalahan karena harus mempertahankan rasa yang memerlukan perhatian ekstra serta tenaga ekstra.

Nanang Edward adalah Ketua Umum Kerukunan Bubuhan Banjar NTB yang masih fasih berbahasa Banjar, terutama dialek Banjarmasin. Kata yang paling sering diucakan ketika berbicara dengan sesama warga Banjar di sekitar masjid adalah ulun dan urang. Ulun artinya saya dan urang artinya orang. Nanang juga senantiasa menyilakan orang-orang Banjar untuk bergabung dalam Kerukunan Bubuhan (keluarga) Banjar.

“Kita bedapat lawan keluarga Banjar di Lombok,” kata Nanang yang artinya kita berjumpa atau bertemu dengan keluarga Banjar di Lombok. Namun belakangan kata keluarga lebih sering diganti dengan Bubuhan yang artinya keluarga.

Dari masjid maupun penutur Bahasa Banjar di Ampenan dapat disimpulkan bahwa Urang Banjar atau orang Banjar adalah Pendakwah Islam yang dikenal dengan pendekatan kearifan lokalnya. Dalam menyampaikan pesan-pesan agama. Jadilah orang Banjar membangun masjid di Ampenan yang bentuk, arsitektur, dan lebih mirip dengan rumah panggung yang biasa dibangun orang Banjar di tepian Sungai Barito dan sungai lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *