BisnisHeadlines

Sentra Kopi Baru di Lereng Rinjani

Budi daya kopi Arabika dilakukan Agus Patrawijaya yang berbekal lulusan Sarjana Pertanian di Desa Sapit, Kecamatan Suela, Lombok Timur, sejak 2019. FOTO KONTRIBUTOR

Lombok Timur, RADIO SINFONI — Berlokasi di lereng Rinjani, tanaman kopi di Lombok Timur telah dikenal sejak zaman penjajahan Belanda di Indonesia. Penduduk Desa Sapit, Kecamatan Suela, misalnya, menanam kopi Robusta lewat bibit dari luar NTB.

Zaman pun bergulir. Meminum kopi jadi tak sekadar minum, akan tetapi, dibarengi gengsi, seperti harus tahu asal biji kopi dan ditanam di mana.

Berpijak pada tren itu, seorang petani di Desa Sapit, Kecamatan Suela, Lombok Timur melakukan budi daya kopi Arabika berbekal pengetahuan lulusan Sarjana Pertanian. Alumnus itu bernama Agus Patrawijaya.

Agus memulai babak baru perkebunan kopi di Desa Sapit, lewat menyemai bibit kopi di atas sebidang papan persegi setinggi 15 cm dan lebar 2×4 m. Komposisi media tanam ini terdiri dari, bibit kopi, sekam, dan pupuk organik. “Di sinilah, bibit kopi Arabika Sapit bermula. Sebelum pindah ke lahan di umur 5-6 bulan,” kata Agus.

Tanaman kopi dirawat Agus sejak masa penyemaian, hingga bibit berusia 8 bulan. Setahun kemudian bibit berubah menjadi pohon dan berbunga. Biji kopi keluar setelah pohon berumur 2 tahun segenggaman orang dewasa.

Baca Juga :  Sosialisasi Visi dan Misi Baru dan Pembekalan Praktikum Prodi KPI

Pengembangan budidaya kopi di Desa Sapit menyusul budidaya kopi di Desa Sajang, dan Beiriri Jarak.

Masing-masing kelompok usaha kopi di dua desa itu telah mendapat bantuan dari pemerintah berupa peralatan produksi biji kopi.

Agus Patrawijaya melalui CV Sapit Farm Mandiri mendapat bantuan mesin sangrai kopi. Mesin sangrai mampu menyangrai kopi sampai pada kadar air yang benar-benar sedikit. Untuk satu kilo gram kopi memerlukan waktu sangrai sekitar 12 menit dengan suhu tungku 120 derajat.

NASKAH: Kontributor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *