Cerita Bisnis Café Edukasi di Mataram

 

Pandangan tentang modal hanya uang dan barang kini mulai bergeser, sebab jika berpatokan pada keduanya pilihannya ada dua, yakni menabung atau berhutang. Sementara, banyak orang di luar sana menganggap hal tersebut sudah konvensional bahkan kedaluwarsa. Paradoks memang, tapi justru mempertemukan bisnisntb dengan pemilik Café Edukasi di Jalan Airlangga, Kota Mataram yang mengawinkan antara ide dan trust sebagai modal bisnis dari sikap kolektif si pemilik.

Mulanya biasa saja, tapi jadi bukan sekadar nama, hingga edukasi dipilih jadi dasar pendirian kafe ini. Sasarannya pelajar dan mahasiswa yang mencari tempat mengerjakan tugas sekaligus makan. Setelah itu tidak perlu kemana-mana, karena sudah tersedia jaringan Wifi, perpustakaan mini, tempat mencetak atau print, musala, kamar mandi.

Makan makanan kekinian memang enak, apalagi harganya harga mahasiswa. Swafoto pun bisa di spot cahaya oranye bantuan ala lampu belajar dinding berwarna dasar plus bertuliskan nama kafe. Oranye benar-benar avant-garde, bisa membuat pengunjung tampak lebih hidup.

Mengangkat slogan “makan dan nugas di sini aja”: kafe dengan akun instagram @cafeedukasi ini terus mencoba memberikan pengetahuan kepada pelangganya beserta menjabarkan setiap menu sebagai rangkuman buku pelajaran. Uniknya juga, bukan kata koki handal, justru remaja yang tekun belajar jadi juru masak di sini. Setiap bulan berganti-ganti dengan tujuan agar bisa mendapat tempat kerja yang “lebih baik”. Setelah diimbangi keputusan bersama (kolektif).

Baca Juga :  Wira-Wiri Wiraswasta (1)

Buka sejak 2019, sudah dua orang karyawan yang “lulus” dari sini, kemudian bekerja di tempat perusahaan makan dan minum terkemuka. Adalah Agus Maulidan, The Leader di kafe ini. aktualisasinya ada pada manajemen waktu, penyajian, sampai cara melayani pelanggan.

Uncle Javus, demikian Agus dipanggil, bercerita tentang sebagian besar modal atau dana dan barang bersumber dari pihak lain yang menaruh percaya pada ide kafe. Bagaikan tiruan, sempat mengalami yang namanya penolakan. “Tidak bisa lihat ruko disewakan, kami telepon. Bukan untuk menyewa, tapi untuk diajak kerjasama”, kata anggota YTC ( Youth Training Centre) ini.

Pondasinya bisnis bukan semata mencari uang. Namun, bagaimana usaha yang dilakukan punya asas manfaat bagi orang lain. Manfaat ditujukan buat pelanggan, tapi buat pengelola jua. Sesuai konsep tempat nugas dalam satu lokasi cerminkan visi kafe ini .

Di sini, setiap dua kali seminggu, berlangsung inspiring talk gratis dengan topik berupa-rupa. Narasumbernya bisa ahli atau pakar pada bidang tertentu. Bagi yang butuh tempat, kafe ini menyediakannya harga bersahabat dengan catatan mematuhi imbauan tidak merokok selama berada di dalam kafe. Terdapat larangan keras merokok di tempat minum kopi ini yang membuat para murid (sebutan bagi pelanggan) merasa senang.

Baca Juga :  Karya Indah Chrisye dan Apresiasi Kelompok Penikmat Berbeda (1)

“Banyak yang tidak bisa mencium asap rokok, juga pelajar dilarang untuk merokok, tempat ini jadi nyaman untuk nugas dan nongkrong”, tutur Firman, satu di antara pelanggan yang ada.

Cafe Edukasi buka setiap hari kecuali hari libur. Buka mulai pukul 10 pagi sampai pukul 10 malam. Bagi yang punya hajat sebaiknya menghindari hari libur atau jangan lupa mengonfirmasi tiga hari sebelumnya agar acara bisa berjalan lancar. Jadi tunggu apa lagi? Mari ke Café Edukasi! (Awin Azhari)

4 thoughts on “Cerita Bisnis Café Edukasi di Mataram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: