Earth Hour Kirim Pesan Beban Polusi Dunia

Sabtu, 30 Maret 2019, komunitas 60+ melakukan switch off di Lapangan Sangkareang. Aksi ini mengirim pesan kepada dunia, bahwa di setiap gemerlap lampu ada beban dunia. Polusi.

Mataram – Pencemaran seperti halnya ancaman, mampu menimbulkan dampak terhadap kondisi air dan udara. Datang dari pembangunan industri atau pembangkit listrik yang mengeluarkan asap ke udara lantas menciptakan polusi. Apa daya menciptakan efek rumah-kaca. Efek pemanasan yang diberikan ke bumi.

Earth Hour lahir dari kerja sama komunitas 60+ dan World Wild Fund. Berhaluan untuk menggugah kepedulian semua pihak tentang pentingnya menjaga lingkungan. Lomba digelar boleh dianggap seremonial, tetapi mendapat perhatian anak muda. Melalui lomba anak-anak diajak peduli terhadap persoalan sampah dan polusi. Dua hal yang sedang dihadapi dunia jelang peringatan Hari Bumi 22 April.

Engagement”, sebut Nurlaily Agustiarini, ketua panitia Earth Hour Mataram 2019 di tengah mengusir rasa capek yang mendera. Maksudnya, keterlibatan mahasiswa yang tergabung dalam perkusi senbud Universitas Mataram dan fire dance Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram semakin menyemarakan selebrasi.

Baca Juga :  Globalisasi Buat Anak Muda Indonesia Makin Kolektif

“Satu jam pasti bukan tujuan utama dari semua ini. Namun, ada tanda plus di setelah angka 60 yang menandakan kesinambungan EH dengan aksi-aksi lain. Clean up dan penanaman pohon di peringatan Hari Peduli Sampah”, ungkap Lely.

Aksi EH Mataram 2019 dihadiri generasi senior peduli lingkungan Theo Setiaji, pemilik Griya Lombok. Di sebelah stannya ada komunitas Lombok Phonegraphy yang punya kebiasaan merekam aksi peduli lingkungan cukup dengan telepon genggam alias tanpa bantuan kamera video. Di junior ada Sonya Febianti, dramawan monolog, serta perwakilan Lombok Beatbox Alliance.

Bagi Lely dan semua yang hadir, pemadaman lampu selama pukul 20.30 – 21.30 WITA masuk gaya ramah lingkungan yang harus dibudayakan. Apa lagi sesudah melihat semakin banyaknya sampah plastik di Mataram. Siapa lagi yang akan menangani kalau bukan anak muda. Semangat muda bisa mengurangi sampah plastik. Apakah melalui ecobricks, seperti yang dicontohkan siswa SDN 9 Mataram di EH Mataram 2019. Mereka diganjar juara satu karena sudah mencintai lingkungan dengan cara yang keren.

Baca Juga :  Local Genius Bugis sebagai Konsep Moderasi Beragama dengan Kearifan Lokal

Karbon Dioksida
CO2 telah menarik atensi program lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, United Nations Environment Programme. Bersama organisasi Pariwisata Dunia (WTO) untuk menggelar International Conference On Climate Change and Tourism di Tunisia, 2003. Disimpulkan, kegiatan kepariwisataan pun menyumbang gas mesin ke udara.

UNEP dan WTO sama sama menyatakan, suhu bumi akan meningkat sekitar tiga derajat pada akhir abad ini, akibat efek rumah-kaca. Perkiraan ini sesungguhnya bukan bermaksud menakut-nakuti, sebab dapat diketahui dari suhu muka air laut. (A. Santhosa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: