Idola Baru Tumbuh Subur di Aspal

Nadiem Makarim menolak tumbang di aspal. Hanya butuh waktu singkat baginya untuk di hati masyarakat sejak mendirikan startup jasa pemesanan ojek, Go-Jek. Sumber foto: medium.com

LOMBOK BARAT–Lulusan Harvard Businnes School, CEO, Founder Go-Jek Nadiem Makarim mendirikan startup jasa pemesanan ojek, Go-Jek pada 2010. Ia tak sekadar idola baru generasi masa depan. Starusnya kini adalah giving leader alias pahlawan anak muda zaman sekarang yang bisa mengurangi pengangguran dengan revolusi industri transportasi Go-Jek

Sudah menjadi satu kepastian jika hal-hal yang dekat dengan kehidupan orang banyak menarik diulas. Lebih-lebih bernuansa baru atau selaras dengan apa yang sedang tren dan Go-Jek adalah perusahaan yang berhasil menampung ratusan ribu pengojek sebagai karyawan. Tentu bukan ojek sembarang ojek, karena ojek biasa telah ditelan zaman.

Nadiem, lulusan Havard Bachelor of Arts dari Brown University telah membawa Go-Jek menjadi startup unicorn pertama di Indonesia. Sebutan untuk startup yang mempunyai valuasi satu miliar dolar Amerika Serikat atau 13,5 triliun rupiah
(Sekarang decacorn dengan valuasi lebih dari 10 miliar dolar AS atau setara Rp 141 triliun -KOMPAS/cetak.)

Baca Juga :  Gamification Bill Gates Antara Pendidikan dan Pemasaran (1)

Prestasi ini yang pasti bukan tanpa sebab melainkan karena bermula dari berhasil menerima lebih dari 20 juta booking sepanjang Januari 2015. Selanjutnya diketahui aplikasi mobile ini pertama kalinya diluncurkan 20 Januari 2015. Kedua, saaat Go-Jek mendapat suntikan pendanaan mencapai kurang lebih 7,4 triliun rupiah pada Agustus 2016.

Dengan modal yang sedemikian besar membuat Go-Jek secara bertahap meningkatkan layanannya. Terdapat tiga layanan yang secara sekaligus dijalankan, yaitu Go-Car, Go-Ride, dan
Go-Food.

Di tenggah cerita, jumlah pengiriman makanan dengan Go-Food mampu menyaingi total pengiriman yang dilayani oleh dua gabungan dua startup India, yakni Swiggy dan Zomato (2017). Go-Jek mempunyai cara berbeda dibanding kebanyakan startup. Terutama dalam mengembangkan tim teknologi. Go-Jek menganut filosofi tidak ada yang berjalan manual, semuanya telah mengalami
Automisasi. Kecuali proses final, sebelum sebuah produk dilihat pengguna.
Untuk tugas ini masih menggunakan tenaga manusia. Hanya bukan kendala, sebab Go-Jek sangat selektif dalam menyortir curriculum vitae calon developer.

Penggunaan ojek modern tentu bukan hanya milik Nadiem Makarim atau Go-Jek. Kesempatan tetap terbuka bagi pemilik bisnis ojek online. Beberapa pelaku bahkan telah menonjolkan perbedaan sebagai magnit pengguna. Sebut saja Blu-Jak yang dibangun Garret Kartono. Ada pula startup Ladyjek dalam konsep pengemudi maupun pengguna ialah perempuan. (Agus Santhosa/Doni Wijayanto, Go-Jek For Every Need, Metagraf, 2018/Gen M, Yuswohady, Bentang, 2017).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: