Ekologi dan Ekonomi Mangrove di Lombok

FOTO PT PLN

Masyarakat secara umum belum menemukan sejumlah referensi yang mengungkapkan secara pasti tentang arti tanaman mangrove dari sisi peristilahan. Cukup banyak pendapat pakar yang berbeda dalam mengistilahkan tanaman ini seperti merupakan kombinasi dari dua Bahasa yaitu Portugis dan Inggris. Sementara pendapat lain menyebutkan mangrove berasal dari orang Melayu yang menyebutnya dengan mangi-mangi atau mangin.

Agil Al Idrus dalam orasi ilmiahnya sebagai Guru Besar di Bidang Pendidikan Biologi di Universitas Mataram, tahun 2009, menyatakan, mangrove adalah tanaman pepohonan atau komunitas tanaman yang hidup di antara laut dan daratan yang dipengaruhi oleh pasang surutnya air laut. Habitat mangrove seringkali ditemukan di tempat pertemuan antara muara sungai dan air laut yang kemudian menjadi pelindung daratan dari gelombang pasang air laut.

Kemampuan mangrove untuk hidup di habitatnya tersebar di beberapa provinsi di Indonesia, yaitu Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Papua, Riau. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), berdasar peta mangrove nasional Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) luas tanaman mangrove pada tahun 2021 mencapai 10.660 hektar, dengan rincian di Pulau Lombok seluas 2.206 hektar dan di Pulau Sumbawa seluas 8.454 hektar. Di Lombok, tegakan tanaman mangrove tersebar di Lombok Timur, Lombok Barat dan Lombok Utara. Di Lombok Timur, lokasi spesies mangrove terdapat di Gili Sulat (Sambalia), Tanjung Luar (Keruak), Teluk Jor (Jerowaru).

Baca Juga :  Sosialisasi Tertib Penggunaan Spektrum Frekuensi Radio dan Perangkat Telekomunikasi
Kelomang telah dideskripsikan dengan nama ilmiah Diogenes matabiru. Spesimen kelomang tersebut berasal dari mangrove di Pulau Lombok bagian timur, Indonesia. FOTO GENERASI BIOLOGI INDONESIA

Secara ekologis tanaman mangrove merupakan tanaman yang dilindungi dengan mengacu pada konsep pembangunan berkelanjutan yang menitikberatkan pada keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kualitas lingkungan. Hal itu pula yang mendasari konsep pembangunan berkelanjutan yang dilakukan sejumlah Satuan Kerja di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI di masing-masing provinsi. Salah satunya yang dilakukan Balai Perlindungan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Dodokan Moyosari di Desa Jerowaru. Berdasarkan hasil identifikasi pada rencana perlindungan mangrove, ditemukan luasan mangrove di Desa Jerowaru (termasuk Teluk Jor) seluas 39,26 hektar.

Melalu rencana tersebut dan penetapan Teluk Jor sebagai sebagai kawasan rehabilitasi mangrove, KLHK melakukan upaya penambahan luasan mangrove melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Percepatan Rehabilitas Mangrove di tahun 2021 melalui Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) dan BPDASHL Dodokan Moyosari seluas 7 hektar. Program melibatkan masyarakat setempat atau Kelompok Jor Telong Elong Bersatu dengan pola penanaman rumpun berjarak di tahun 2021.

Upaya rehabilitasi mangrove di Teluk Jor diyakini masyarakat setempat memiliki nilai manfaat langsung sebagai salah satu daya Tarik wisata bagi wistawan domestik, terutama untuk memancing dan kamping. Dalam sehari, hutan mangrove di Dusun Poton Bako dikunjungi sekitar 100 wisatawan. Tentang ini tentu akan menjadi peluang desa untuk menggerakan kegiatan ekonomi serta menciptakan lapangan dan kesempatan kerja dari wisata yang berdiri sejak Oktober 2021.

Baca Juga :  Ujian Terbuka Promosi Doktor PAI Ke-20 UIN Mataram

Kawasan mangrove di Teluk Jor memiliki potensi menarik biota laut baik flora maupun fauna daratan untuk bersarang. Fungsi biologis yang dimaksud sebagai tempat pembenihan ikan, udang, tempat pemijahan beberapa biota air, tempat bersarangnya burung dan fungsi akar mangrove mampu memerangkap sedimen. Sementara itu, dari sisi vegetasi yang dapat dijumpai di Teluk Jor, antara lain avicennia marina, lutmitzera racemose, rhizophora stylosa, sonneratia alba.

 

Penulis: Kontributor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: