PKBM Cahaya Harapan Atasi Putus Sekolah dan Keaksaraan

RADIO SINFONI, Lombok Tengah — Mengatasi angka putus sekolah dan tingkat buta aksara yang masih  tinggi menjadi konsentrasi Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Cahaya Harapan di Desa Mujur, Praya Timur. Tim liputan mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Mataram mencoba melakukan liputan ke Yayasan itu.

Kepala Yayasan PKBM Cahaya Harapan Suhita Efendy mengatakan, tahun 2000 menjadi awal berdirinya PKBM Cahaya Harapan. Berawal dari keprihatinan akan tingginya angka putus sekolah akibat pernikahan usia dini. Ditambah rendahnya tingkat keaksaraan karena rendahnya kemampuan baca tulis di kehidupan sehari – hari masyarakat. “Saya sendiri mulai ini dari nol sebenarnya, dan PKBM ini hadir dari keprihatinan saya soal putus sekolah karena pernikahan usia dini,” katanya.

Efendy menyatakan ketika merintis, fasilitas belum seperti saat ini. Namun, berkat ikhtiar, PKBM mulai dapat perhatian pemerintah. Baik dari segi dana maupun fasilitas yang diberikan. “Tidak mudah untuk saya membangun ataupun merintis PKBM ini. Saya harus pontang-panting urus berkas,  kirim ke Dinas Pendidikan dan lain lain agar PKBM Cahaya Harapan ini dilirik oleh pemerintah,” kata Efendy.

Baca Juga :  The Bright and Dark Side of Social Media Materi di AICIS 2022 UIN Mataram

Menurut Efendy, tantangan yang dihadapi PKBM sekarang adalah rendahnya jumlah pengajar dan perbedaan usia peserta belajar berikut kondisi ekonomi, lingkungan dan keluarga. Dengan beragamnya aktivitas cukup banyak peserta yang kesulitan hadir ketika  simulasi UTBK atau UAS.  ”Setiap UTBK dan UAS selalu jadi masalah bagi saya dan pengajar. Harus door to door baru bisa mengajak peserta didik untuk UTBK  dan UAS,” tambahnya.

Safrudin, salah seorang pengajar di PKBM Cahaya Harapan menjelaskan sistem belajar dan kondisi peserta berpengaruh terhadap efektifitas belajar dan mengajar di Yayasan.  Waktu belajar pun harus disesuaikan agar tetap dapat mengatasi permasalahan putus sekolah dan permasalah keaksaraan. “Sistem belajar sering terganggu dari soal waktu peserta belajar yang harus di sesuikan agar sama rata dan proses belajar efektif , cuman susahnya disitu,” tuturnya.

Di tengah hambatan yang ada, PKBM Cahaya Harapan dapat meluluskan banyak peserta belajar setiap tahunnya dengan jumlah yang terus meningkat. Sejalan dengan proses belajar yang semakin meningkat baik dari peserta maupun pengajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: