Local Genius Bugis sebagai Konsep Moderasi Beragama dengan Kearifan Lokal

FOTO & TEKS BERITA WAHYUNIA PURNAMA

RADIO SINFONI, Mataram — Parallel sessions sebagai salah satu rangkaian dari ANNUAL INTERNATIONAL CONFERENCE ON ISLAMIC STUDIES (AICIS) 2022 di hari kedua yang dilaksanakan di Ruang AICIS 7, tepatnya di Meeting Room Lantai 1 Gedung Fakultas Syariah UIN Mataram berjalan kondusif.

Kegiatan yang dilaksanakan pada hari Jumat (21/10/22) ini dilaksanakan dengan 2 sesi yaitu parallel sessions sesi 1 pada pukul 8.00-10.00 WITA, kemudian dilanjutkan dengan parallel session sesi 2 pada pukul 10.00-11.45 WITA.

Dihadiri oleh mahasiswa dan dosen Fakultas Syariah UIN Mataram sebagai audiens serta pemateri yaitu para panelist parallel sessions baik secara offline ataupun online yang berasal dari berbagai daerah.

Berangkat dari tema besar “Future Religion in G-20, Digital Transformation, Knowledge Management and Social Resilience”, semua panelist memaparkan paper penelitiannya dengan berjalan lancar dan tidak ada kendala sehingga sesuai dengan waktu yang diberikan oleh moderator.

Salah satu paper yang dipaparkan yaitu paper terakhir yang sekaligus sebagai paper penutup dari parallel sessions ini yang berjudul Local Genius Bugis “Sipakatau, Sipakainge’, dan Sipakalebbi” Sebagai Corong Ideologi Moderat yang disusun oleh Muhiddin Bakri dari IAIN Parepare.

Baca Juga :  FDIK UIN Mataram dan KPI Jalin Kerja Sama Peduli Penyiaran

Paper ini mengangkat nilai moderasi beragama dengan konsep kearifan lokal yaitu pada Local Genius Bugis yang berbunyi Sipakatau, Sipakainge’, dan Sipakalebbi yang bermakna saling menghormati, saling mengingatkan, dan saling menjaga harkat dan martabat.

Hal tersebut masih sangat kental di daerah Bugis karena merupakan sebuah desain sosial kontrol yaitu sebagai soft control bagi masyarakat dan hard control bagi pemangku kebijakan. Sehingga dapat menjadi kekuatan yang menyatukan dan melepas sekat-sekat primordialisme yang dapat memporak porandakan sebuah keharmonisan dalam berbangsa dan bernegara di Indonesia.

“Kenapa harus terlalu jauh mencari konsep moderasi bergama, cukup pada kearifan-kearifan lokal yang ada di daerah bisa dijadikan sebagai ideologi konsep moderasi beragama. Terutama yang kami kaji ini adalah Sipakatau, Sipakainge’, dan Sipakalebbi.” Ujar Muhiddin.

Karena negara ini merupakan negara multikultural, dan itu terkait dengan benturan-benturan kekuatan jadi harus ada pemikiran-pemikiran yang seimbang antara wahyu dan akal. Sehingga Muhiddin menambahkan bahwa
“Tidak semua tempat kearifan lokalnya bisa dijadikan konsep moderasi atau corong moderat.” ujarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: