Resiliensi Manajemen Yayasan Pendidikan Islam di Daerah Tertinggal dalam Menjaga Eksistensi Di Masa Sulit

FOTO & BERITA MAULANA SUTRISNO SP

RADIO SINFONI, Mataram — Annual International Conference of Islami Studies (AICIS) parallel sessions yang dihadiri para panelist dari berbagai macam PTKIN di Indonesia.

Kegiatan ini dilakukan di beberapa gedung di kampus UIN Mataram salah satunya yaitu di gedung Fakultas Dakwah dan Ilmu komunikasi, Jumat (21/10/2022).

Memiliki dua sesi dan dihadiri oleh beberapa panelist yang dilaksankan di ruang 12 Lt.1 Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, pada sesi 1 dihadiri oleh Fitriatul Qamariyah dari IAIN Madura, Abdul Rohman dari UIN Walisongo Semarang, Nur Hamzah dari IAIN Pontianak, Rusmulyadi dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung, dan Suci Wulandari dari STAI Darul Kamal NW.

Dalam acara ini bukan hanya dari kalangan akademisi saja banyak juga dari kalangan mahasiswa yang ikut serta di dalam berpastisipasi pada rangkaian acara AICIS 2022 ini.

Salah satu dari beberapa panelist yang hadir yakni Fitriatul Qamariyah dari IAIN Madura memaparkan materinya dengan isu “Resiliensi Manajemen Yayasan Pendidikan Islam di Daerah Tertinggal dalam Menjaga Eksistensi Di Masa Sulit”.

Baca Juga :  Marshal Sirkuit Mandalika Sampai 470 orang

Fitriatu Qamariah meneliti sebuah yayasan yang ada di daerah Madura. Penelitian yang dipaparkan bertujuan untuk mengetahui kendala yang dialami dan upaya yang dilakukan oleh pihak pengelola madrasah untuk menjaga eksistensinya selama masa pandemi.

Ia menganalisis data Emis Pendis tahun 2020/2021 jumlah lembaga madrasah di Indonesia sebanyak 82.418 untuk semua mulai dari jenjang Madrasah Diniya hingga Madrasah Aliyah dari data tersebut terdapat 4.010 madrasah negeri dan 78.408 madrasah swasta di Indonesia.

“Lembaga pendidikan islam ini memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia khususnya di daerah tertinggal,” paparnya.

Menurutnya kendala-kendala yang dialami dalam mengelola madrasah untuk menjaga eksistensinya yaitu susahnya sinyal atau jaringan, kurangnya kemampuan teknologi, kemudian kesulitan memahami materi secara daring, dan kurangnya komunikasi dua arah antara guru dan siswa.

“Jadi kebijakan yang diambil pihak yayasan yaitu terpaksa meliburkan selama masa pandemi covid yang dimana sekolah-sekolah lain mengadakan sekolah daring terpaksa di sekolah yayasan ini meliburkan selama covid,” jelasnya kembali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: