Media dan Kampanye Lingkungan Asri di NTB

SUMBAWA – Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Kuta, Lombok Tengah, Februari 2016, bukan saja yang pertama bagi Nusa Tenggara Barat (NTB), tetapi menjadi waktu yang tepat mempromosikan pariwisata NTB. Dari sekian ribu orang yang hadir diharapkan memiliki persepsi yang sama tentang lingkungan secara global. Lebih lagi NTB sedang berbenah menjadi salah satu destinasi kunjungan wisatawan dari Timur Tengah.

Pada hari yang bersejarah itu, pers membicarakan dirinya. Media diingatkan kembali tentang perannya dalam kampanye lingkungan Bumi. Isu-isu lingkungan hidup seperti pembalakan hutan, pembakaran hutan layak menjadi perhatian pers. Lebih-lebih penghidupan warga NTB banyak bergantung pada hutan. Kawasan hutan mampu mendatangkan tamu dan memberi keuntungan atas jasa. Hutan sedianya tak hanya menjadi tempat tinggal tumbuh-tumbuhan melainkan juga aneka satwa endemis. Sehingga konservasi lingkungan mutlak berlaku agar fauna tetap berada di sarangnya.

Dengan segala tujuan belajar mencintai alam, berlangsung perbincangan di atas geladak Kapal KRI Makassar milik TNI AL sesudah angkat sauh dari Surabaya menuju Lembar. Seluruh wartawan  khidmat menyimak penjelasan narasumber dan secara sadar tahu tengah melintas di atas Selat Lombok. Selat terkenal  dengan ombaknya yang legendaris

Selat Lombok tak hanya memisah Pulau Lombok dan Pulau Bali dengan jarak tempuh 32 mil laut dari Lembar menuju Padang Bai. Di selat ini melintas garis imajiner Wallace sebutan Alfred Russel Wallace pakar Zoologi berkebangsaan Inggris di abad ke 19. Alfred membedakan antara satwa di barat dan timur Indonesia lewat lintasan khayal dari Selat Lombok hingga Selat Makassar.

Baca Juga :  Keanekaragaman Hayati Kosta Rika Ada di Lombok

Perbincangan Wallace sudah sepantasnya  diikuti upaya konservasi lingkungan yang masih membutuhkan perhatian semua pihak.  Di berbagai tempat masih banyak dijumpai praktik perburuan satwa oleh kolektor maupun oknum di bawahnya. Seakan-akan tidak ada habisnya praktik ini muncul lewat berbagai modus. Maka, tak heran jika harian KOMPAS sangat berkonsentrasi atas berbagai peristiwa penggagalan penjualan satwa liar ke luar daerah. Pun di NTB, sebagaimana Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA NTB) melalui twit-nya.  Melalui akun @bksdantb, BKSDA NTB merilis terdapat pemeriksaan 10 ekor burung Anis Kembang oleh petugas pos pada 9 Januari 2019. Selanjutnya selama Januari – April cukup banyak pemeriksaan yang dilakukan  BKSDA NTB untuk mencegah peredaran burung liar tanpa izin.

BKSDA bukan satu satunya institusi yang mengkampanyekan tentang konservasi lingkungan. Cukup banyak organisasi yang turut serta dalam upaya ini secara preventif. Bagaimana belajar mencintai alam di daerah, sebab di atas jalan Poto Tano – Sumbawa Besar masih bisa terlihat Elang Flores bermanuver mengitari perbukitan. Lazimnya sedang mengintai mangsa atau tengah menunjukan kekuasaan, raptor ini masih bisa dijumpai di Sumbawa. Sayang ketika mengutip wikipedia, jumlahnya tinggal 250 ekor.

Kondisi serupa sering terlihat di kawasan Seteluk, Sumbawa Barat. Bahkan seorang pengemudi kendaraan lintas Poto Tano – Taliwang sering melihat kehadiran Elang Flores di kabupaten paling barat Pulau Sumbawa ini. Manuvernya sering terlihat wilayah perbukitan Seteluk sebelum masuk Kota Taliwang.

Baca Juga :  Komunitas Nol Sampah dan Walhi NTB Ajak Warga Diet Kantong Plastik Tukar Kresek dengan Tas Kain

Elang pada umumnya adalah predator unik lewat kemampuan melihat mangsa  dari ketinggian. Bersarang di atas perbukitan terjal dan menganut prinsip monogami. Bukan mustahil keunikan tersebut sangat mempengaruhi perkembangbiakan elang ke depan. Lebih lagi semakin banyak praktik pembalakan hutan, pembakaran hutan, pertambangan liar yang dapat menggangu kehidupan Elang Flores di Sumbawa.

Baik peringatan HPN dan cerita Elang Flores menjadi alaram bagi semua pihak untuk meningkatkan peran dalam kampanye pelestarian lingkungan. Sebagaimana pakar Biologi menyatakan punahnya beberapa satwa di satu lingkungan menjadi alaram bagi ekosistem di sekitarnya. Jikalau tidak dihentikan mampu mempengaruhi keseimbangan ekosistem. (A. SANTHOSA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: