HeadlinesKPI

Eksistensi Wayang Sasak sebagai Warisan Tradisional di Era Digital

Radio Sinfoni, Mataram — Budaya tradisional menjadi titik sentra salah satu dalam menyampaikan metode dakwah dan keberagaaman budaya tradisional. Keberadaan wayang sasak yang masih eksis di era transformasi teknologi dan informasi berjalan begitu cepat.(8/5/2024).

Keberadaan budaya tradisional pada era digital tentunya menjadi tantangan dalam menghadapi transformasi digital tatkala keelokan warisan budaya tradisional tetap unjuk kebolehan serta eksis di tengah tengah perkembangan zaman yang serba praktis.

Terdapat salah satu sanggar wayang sasak yang keberadaannya masih diminati oleh para pecinta wayang sasak, mahasiswa, para dalang. Yang dimana masih diakui keberadaannya serta diundang dalam berbagai kesempatan seperti adanya pengenalan budaya tradisional, acara-acara keagaman, acara adat, yaitu Sanggar Arimanjili yang terletak di Kuranji sebagai Lembaga Pengemban Budaya Adat Sasak.

Salah satunya, mengembangkan Wayang sasak agar keberadaannya masih dilirik dan layak diminati di era digital. Sanggar Arimanjili tidak hanya memperdayakan Wayang sasak saja melainkan, beberapa seni tradisional sehingga tetap eksis di kalangan penikmat wayang sasak sendiri.

Baca Juga :  Politik “Gemoy” Gait Milenial dan Gen Z

Dalam kunjungan yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa UIN Mataram sebagai bentuk melestarikan kebudayaan tradisional dan mengenal lebih jauh peran wayang sasak.

Dalam pertemuan mahasiswa dan budayawan senior sekaligus pemililk dari sanggar Arimanjili yaitu Bapak Sadarrudin, mengungkapkan bahwa wayang sasak ini memiliki banyak makna tersendiri dari aspek tokoh wayang, cerita wayang, peristiwa maasa lampau.

” Jadi wayang sasak memiliki 11 tembang kehidupan dan memiliki ragam dan tokoh peranan dalam menampilkan sebuah pentas seni wayang sasak, tergantung juga pembawaan dalangnya”, ujar Sadarrudin.

Bapak Sadarrudin mengharapkan kedatangan kelompok mahasiswa ini mampu mengupayakan keberadaan wayang sasak dalam mempertahankan seni tradisional di era digital ini.

” Ya saya senang adik- adik sudah mau datang melihat dan tertarik tentang perkembangan wayang sasak ini, karena generasi muda kalian ini yang memang meneruskan budaya kita sendiri”, tutup Sajarrudin.

 

Oleh: Aziz Setiawa

Sinfoni

@voice.ofcampus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *